Semarang, 18 Februari 2009
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum wr. wb.
Kepada :
Sahabat-sahabat mayaku yang pernah mengisi tiap jeda masa senangku dengan keceriaan warna-warna pelangi dan sela dukaku dengan hiasan senyum penghiburan.
Bersama surat ini kuusungkan kenang kisah yang pernah kita rajut bersama. Dalam suka maupun duka. Ku bisa berkata diri ini merasa bangga dan bahagia pernah mengenal kalian dalam dunia ini. Kalian adalah hijau dan biru pelangi dalam kanvas dunia mayaku yang belum genap satu putaran bumi mengitari matahari. Kalian adalah rumah dalam jelajah dunia tanpa tatap muka ini. Dan kalian itu jelangku dalam tiap detik rotasi bumi.
Apa kalian tahu, dari dulu aku sangat suka berteman, selalu menghargai persaudaraan, dan menjunjung tinggi asas persahabatan. Aku terus dan pasti akan menjaga persahabatanku dengan sahabatku. Karena bagiku persahabatan adalah salah satu hal terpenting dalam hidupku.
Tahu juga kan kata-kata favoritku adalah “Kimi wa hitori janai, atashii ga sobani iru”, yang artinya “Kamu tidak sendirian, ada aku disampingmu”. Kenapa aku suka kalimati itu, sebab seperti adanya, aku takkan membiarkan sahabatku tenggelam sepi sendiri, dan kupastikan selalu ada untuknya.
Hingga sering kali kuimpikan dapat lipat samudera, daratan, ruang dan waktu untuk sekedar berikan kesempatan pada kamar tidurku dapat kalian tempati bersama dan kita bercerita tentang segala. Pernah pula kusesali jemari yang tak mampu tertaut, walau sekedar bergandengan tangan sambil berjalan-jalan memberi sela pada penat.
Namun sekarang semakin kusadari setelah berkali-kali diri jatuh, tertatih kemudian berdiri didera bayu maya, bahwa kata-kata tak cukup untuk menunjukkan sebuah ketulusan jiwa. Bahwa kata-kata begitu rapuh dan tak sekuat sebuah tatap muka.
Dan kini…
Haluan telah bergeser, tak menuju satu cerita hilir yang sama. Rasa-rasa telah lelah dan tak dapat kompromi lagi dengan kosa. Maka ku ikhlaskan semua tuk kembali pada waktu yang berdamai di tiap hati kita masing-masing.
Lalu kepada sakura biru kuucapkan terima kasih telah temani kegelisahan dan keceriaanku akan pengembaraan menelusuri alam. Dan kepada sang bidadari hijau kuucapkan setulus jiwa terima kasih pernah tinggal di rumahku kala kau turun ke dunia,
kau pernah hiasi tempat tinggalku yang bukan siapa-siapa ini menjadi indah penuh warna. Ku berpamit kepada kalian dengan selaksa jiwa sambil membawa pecahan kristal bening dari gelas-gelas kaca memori.
Semoga setelah ini tak akan ada air mata tiba tanpa diminta, Semoga selepas ini hujan mendatangkan pelangi yang artinya satukan warna-warnanya.
Terakhir kumohonkan maaf karena aku telah gagal menjadi sahabat yang baik bagi kalian. Namun yakinlah aku tetap menjaga asa-asa yang telah kalian titipkan padaku, dari dulu, sekarang hingga masa depan. Tak kan tertumpah.
Aku pergi dengan berucap salam damai. Aku mati dengan tertutup semua indraku.
Ja matta ne..
Assalamu’alaikum wr. wb.
salam sayang,
olief