Posts Tagged ‘Kakakku Telah Tiada’
Tentang Kakakku
Kakakku telah meninggal. Itulah kenyataannya. Tapi mengapa setiap kali gerakku selalu terasa suaranya, mendengar ucapan-ucapannya atau bahkan semua nasehat-nasehat di dalamnya. Kakakku telah meninggal. Memang benar, artinya itu adalah sudah tak bisa bersama lagi di dunia ini, dan artinya aku sendiri tanpa kakakku. Namun kenapa selalu saja namanya bergema di setiap sudut rumah kami, setiap hari bahkan meskipun itu dalam benak masing-masing anggota keluarga kami.
Aku, selalu dan selamanya mencintai kakakku, dari dulu semenjak aku masih kecil bahkan beranjak remaja, kakakku tak lelah menopangku. Hem, mungkin memang benar aku telah ketergantungan dengan sosok kakakku, sosok seorang wanita putih berjilbab dan badannya agak subur dengan segala santun yang dimilikinya, dengan segala kepandaian dan kecerdasan dalam dirinya serta kedalaman ilmu agamanya hingga sanggup menuntun keluarga kami dalam kecerahan cahayaNya. Aku suka kakakku. Itu mutlak dan tak terbantahkan, bahkan jika ibu sering membanding-bandingkan aku dengannya, dengan segala kesempurnaan tingkah dan perilakunya, aku tak membantah karena memang benar adanya, dan tak kan berkurang cintaku kepada kakakku yang telah tiada itu. Mungkin benar adanya jika sayangku kepada kakakku lebih besar daripada kepada orang tuaku. Benar sekali. Karena apa kau tahu, dulu, sejak kecil, dialah yang merawatku, yang membelaku dari kejahilan kakak-kakak laki-lakiku, dari kemarahan bapakku ibuku, dan yang selalu mendampingiku ketika aku sedang sakit ataupun tidak. Bukti lagi bahwa rasa sayangku kepada kakakku lebih besar daripada orang tuaku yaitu ketika bapakku meninggal dunia lima tahun yang lalu. Hem, sedih tapi kenapa hatiku masih bisa berdiri dan cepat kembali. Baru setelah kakakkku tiada aku menyadari kenapa hal itu terjadi, karena kakakku berdiri di belakangku. Karena masih ada kakakku. Dialah yang pelan-pelan memberikan pengertian dan kekuatan padaku saat bapakku tiada. Dia yang mengajarkanku untuk selalu berbakti pada orang tua, mengingatkanku betapa pengorbanan ibu melahirkan aku dan jika tak ada bapak maka aku pun tak kan ada di dunia ini. Ketika kakakku menikah, rasa cemburu merasukiku, membuatku iri dan sakit hati kepada kakak iparku. Namun sekali lagi kakakku memberi pengertian kepadaku agar aku harus mandiri. Meski merasa kehilangan kakakku, aku tidak terlalu sedih kerana aku sewaktu-waktu dapat bertemu dengannya, dapat berucap apa saja dan dapat menuangkan apa pun inginku. Namun, ketika berita meninggal kakakku malam itu, hatiku sangat pilu, sedih menghampiriku dan menikamku lalu melemparkan aku ke lubang kekosongan. Dalam hatiku, aku harus tegar, siapa lagi yang membantu ibu kecuali aku dan kakak-kakak serta adik-adikku. Yang kupikirkan saat itu adalah keponakanku yang masih kecil, lima tahun dan tiga tahun. Kasihan mereka. Setelah jasad kakakku tiba di rumahnya, rumahku, rumah kami ini baru sejadi-jadinya tangisanku tak tertahankan. Dan setelah itu, entah mengapa meski air mata telah tak jatuh di pipi, namun kurasakan ada lubang yang sangat besar dalam hatiku. Besar sekali, hingga tiap tidur selalu mengusikku dan membuat air mataku jatuh. Dan, kusadar pula saat ini aku tak punya penopang, karena penopangku telah tiada.
Beberapa waktu kulewati dan aku tersadar bahwa penopang sebenarnya dan pemegang segalanya adalah pemilik alam semesta dan tiap-tiap nyawa. Ialah Alloh SWT. Dan aku mulai belajar agar tak larut di dalam kesedihan yang pekat, karena akan memberatkan kakakku saja di kuburnya. Yang bisa kulakukan saat ini hingga nanti adalah selalu mendoakannya agar dapat ampunan dari Alloh SWT, dan amal ibadahnya diterima. Amin.
bersambung………..
Exsanet, 5 Januari 2008
Tags: Kakakku Telah Tiada